Cara membuat/menyusun isi cover makalah/skripsi yang baik dan benar - Pada artikel sebelumnya telah Saya bagikan mengenai (Contoh Pembuatan Makalah), (Contoh Kata Pengantar Makalah), (Contoh Latar Belakang Makalah), (Contoh Daftar Isi Makalah), (Cara Mudah Membuat Cover Makalah) yang bisa anda lihat.

Makalah, merupakan karya tulis ilmiah yang membahas pokok masalah tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup tertentu. Makalah juga dapat diartikan sebagai karya akademis yang biasanya diterbitkan atau dipublikasikan pada jurnal yang bersifat ilmiah. makalah juga dapat diartikan sebagai karya tulis yang membahas permasalahan tertentu dengan analisis yang logis dan objektif dan ditulis dengan sistematis.

Pada sebuah makalah, bagian yang pertama kali dilihat ialah bagian cover atau sampul makalah tersebut, walaupun cover bukanlah bagian terpenting dari pembuatan makalah, akan tetapi membuat cover makalah yang baik dan benar akan sangat berguna dan memberi nilai lebih karena memiliki daya tarik tersendiri.

Untuk membuat cover makalah yang baik dan benar pertama-tama kita sesuaikan isi cover yang akan kita buat dengan format yang sering digunakan seperti berikut ini.

1. Judul Makalah

Judul makalah diletakkan dibagian atas (tengah cover makalah) dengan meggunakan huruf kapital tebal. Dalam membuat judul, sebelumnya kita menulis keterangan penulisan di atas judul kemudian jika diperlukan tambahkan sub judul di bawah judul dengan singkat dan jelas.

2. Tujuan Makalah

Tujuan pembuatan makalah ditempatkan setelah menulis judul atau sub judul dengan ukuran huruf yang lebih kecil, tujuan makalah dibuat singkat, seperti  makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah.

3. Gambar Lambang/Logo

Gambar lambang atau logo harus terletak ditengah cover dengan ukuran tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Gambar lambang atau logo ini biasanya merupakan bagian yang paling mencolok pada bagian cover makalah yang dibuat, pemilihan gambar lambang pun harus disesuaikan dengan isi makalah, namun umumnya memang menggunakan lambang sekolah atau universitas.

4. Data Penulis/Penyusun Makalah

Data penulis inilah yang menjadi hal terpenting dalam membuat sebuah makalah, sebagus apapun sebuah makalah, jika tidak ada data penulisnya maka bisa dikatakan makalah tersebut tidak lagi berguna.

5. Jurusan atau Fakultas dan Tahun Pembuatan

Keterangan jurusan atau fakultas di tulis paling bawah (tengah cover makalah) dengan meggunakan huruf kapital. Jika penulis masih bersekolah di SMA atau SMP sederajat juga harus mencantumkan nama sekolah namun apabila tengah kuliah di universitas atau perguruan tinggi maka bagian ini harus diisi berdasarkan jurusan yang dipilih.

Contoh Cover Makalah yang Baik dan Benar

Cara Mudah Membuat Cover Makalah yang akan saya bagikan pada artikel ini semoga bisa membantu dan mempermudah anda guna melengkapi pembuatan makalah atau setidaknya dapat menambah inspirasi Anda dalam membuat desain cover makalah.

Dalam membuat cover makalah ada baiknya kita mendesain sendiri sehingga tidak menyusahkan teman, tetangga, paman, bibi, kakek, nenek atau kerabat kita :D maka tidak ada salahnya menyimak tips dan Cara Mudah Membuat Cover Makalah berikut ini.

Format cover makalah yang biasanya sering di gunakan adalah sebagai berikut

  1. Makalah disusun dengan cover dan dalam bentuk cover terlampir
  2. Isi makalah diketik dengan format font : Times New Roman, Regular, size 12
  3. Di Print di pada kertas HVS kuwarto A4
  4. Pada tepi atas 4 cm, kiri 3,5 cm, kanan 2,5 cm, bawah 2,5 cm
  5. Orientasi : Potrait jarak spasi 1,5 Lines


Langkah Membuat Cover Makalah


Untuk membuat atau mendesain cover makalah, anda cukup menggunakan software MS Word, caranya sebagai berikut

1. Buka MS Word
2. Pada bagian menu utama klik tab insert


3. Selanjutnya pilih cover page dan pilih desain halaman sesuai keinginan Anda.

4. Silahkan Anda ganti tulisan-tulisan yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan data makalah yang Anda buat. Jika sudah selesai jangan lupa disimpan/Save.

Sebagai contoh cover makalah, lihat gambar dibawah atau bagi yang ingin tau cara menyusun isi cover makalah klik disini.

Contoh Cover Makalah Terbaru 1

Contoh Cover Makalah Terbaru 2

Contoh Cover Makalah Terbaru 3

Contoh Cover Makalah Terbaru 4
Contoh Cover Makalah Terbaru 5
Contoh Cover Makalah Terbaru 6

Makalah Kurikulum Pendidikan

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................ 1
1. Latar Belakang ....................................................... 1
2. Rumusan Masalah .................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................ 2
1. Pengertian Kurikulum ............................................ 2
2. Komponen – Komponen Kurikulum ........................... 4
3. Prinsip - Prinsip Kurikulum .................................... 5
4. Fungsi Kurikulum ................................................... 8
5. Peranan Kurikulum ................................................. 9
6. Macam – Macam Kurikulum .................................... 9
7. Tujuan Kurikulum ................................................ 12
BAB III PENUTUP .................................................. 14
1. Kesimpulan .......................................................... 14
2. Saran ..................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ................................................ 15

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah “ Kurikulum Pendidikan ” guna memenuhi tugas, sesuai dengan yang diharapkan. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW dan semoga kita selalu berpegang teguh pada sunnahnya Aamiin...

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan berguna bagi Mahasiswa pada umumnya, dan tidak lupa kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan baik dalam kosa kata ataupun isi dari keseluruhan makalah ini. Kami sebagai penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kebaikan kami untuk kedepannya.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.
Perubahan kurikulum dari waktu ke waktu bukan tanpa alasan dan landasan yang jelas, sebab perubahan ini disemangati oleh keinginan untuk terus memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan nasional. Persekolahan sebagai ujung tombak dalam implementasi kurikulum dituntut untuk memahami dan mengaplikasikannya secara optimal dan penuh kesungguhan, sebab mutu penyelenggaraan proses pendidikan salah satunya dilihat dari hal tersebut. Namun di lapangan, perubahan kurikulum seringkali menimbulkan persoalan baru, sehingga pada tahap awal implementasinya memiliki kendala teknis. Sehingga sekolah sebagai penyelenggara proses pendidikan formal sedikit banyaknya pada tahap awal ini membutuhkan energi yang besar hanya untuk mengetahui dan memahami isi dan tujuan kurikulum baru. Dalam teknis pelaksanaannya pun sedikit terkendala disebabkan perlu adaptasi terhadap perubahan atas kurikulum terdahulu yang sudah biasa diterapkannya.

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah pengertian Kurikulum?
  2. Sebutkan komponen komponen kurikulum ?
  3. Sebutkan prinsip – prinsip kurikulum ?
  4.  Apa fungsi kurikulum ?
  5. Apa peranan kurikulum ?
  6. Sebutkan macam – macam kurikulum ?
  7. Apa tujuan kurikulum ?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Kurikulum

Pada awal mulanya istilah Kurikulum dalam dunia olah raga khususnya atletik pada zaman Yunani kuno. Curriculum berasal dari bahasa YunaniCurier atau kurir (dalam bahasa Indonesia) yang berarti seseorang yang bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang lain di lain tempat. Curere berarti berlari. Kamus Webster tahun 1856 mengartikan “a race course, a place for running, a chariot”. Kurikulum diartikan suatu jarak yang ditempuh oleh pelari. Tapi juga suatu chariot kereta pacu pada zaman dulu, suatu alat yang membawa seseorang dari tempat start ke tempat finish.
Secara terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan.

  •  Prof. Dr. S. Nasution, M. A.

Menjelaskan kurikulum sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses kegiatan belajar mengajar di bawah naungan, bimbingan & tanggunga jawab sekolah / lembaga pendidikan.

  •  Drs. Cece Wijaya,dkk

Mengartikan kurikulum dalam arti yang luas yakni meliputi keseluruhan program dan kehidupan didalam sekolah.

  • Kerr, J. F (1968)

Pengertian kurikulum ialah sebuah pembelajaran yang dirancang dan juga dilaksanakan dengan individu serta juga berkelompok baik itu di luar ataupun di dalam sekolah.

  • Neagley dan Evans (1967)

Pengertian kurikulum ialah semua pengalaman yang telah dibangung atau dirancang oleh pihak sekolah untuk dapat menolong para siswa didalam mencapai hasil belajar kepada kemampuan siswa yang paling baik.

  • Good V. Carter (1973)

Pengertian kurikulum ialah kelompok pengajaran yang sistematik atau juga urutan subjek yang dipersyaratkan untuk dapat lulus atau juga sertifikasi dalam pelajaran mayor.

  • George A. Beaucham (1976)

Pengertian kurikulum ialah suatu dokumen tertulis yang didalamnya terkandung isi mata pelajaran yang akan diajar kepada peserta didik(murid) dengan melalui berbagai mata pelajaran, pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah yang dalam kehidupan sehari-hari.

  • Grayson (1978)

Pengertian kurikulum ialah suatu perencanaan untuk mendapatkan suatu pengeluaran (out-comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.

  • Murray Print

Pengertian kurikulum ialah sebuah ruang pembelajaran yang sudah terencana diberikan secara langsung kepada siswa oleh sebuah lembaga pendidikan dan juga pengalaman yang dapat dinikmati oleh semua siswa pada saat kurikulum tersebut diterapkan.

  • UU. No. 20 Tahun 2003

Pengertian kurikulum ialah suatu perangkat rencana dan juga pengaturan tentang tujuan, isi, dan juga bahan pengajaran dan cara yang digunakan ialah sebagai suatu pedoman didalam suatu penyelenggaraan kegiatan dalam pembelajaran untuk dapat mencapai suatu tujuan pendidikan nasional.

  • Dr. H. Nana Sudjana Tahun (2005)

Kurikulum merupakan niat & harapan yang dituangkan kedalam bentuk rencana maupun program pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. Kurikulum sebagai niat & rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar mengajar.

2. Komponen Kurikulum

Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen – komponen tertentu. Sistem kurikulum terbentuk oleh empat komponen, yaitu : komponen tujuan, isi kurikulum, komponen metode atau strategi pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi. Sebagai suatu sistem, setiap komponen harus saling berkaitan satu sama lain. Manakala salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka sistem kurikulum secara keseluruhan juga akan tergganggu.

1. Komponen Tujuan

Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan yang menggambarkan suatu masyarakat yang di cita – citakan, misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran.

2. Komponen Isi/ Materi Pelajaran

Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap materi pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

3. Komponen Metode/ Strategi

Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimana bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka maka tujuan itu tidak mungkin dapat tercapai. Strategi meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan pendapat diatas, T. Rajakoni mengartikan strategi pembelajaran sebagai pola dan urutan umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Dari kedua pengertian diatas, ada dua hal yang patut kita cermati. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Ini berarti penyusunan atau strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja, belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. artinya, arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian penyusunan langkah – langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.

Upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal, dinamakan metode. Ini berarti metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, bisa jadi satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi ekspositori bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia termasuk menggunakan media pembelajaran. Oleh karena itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada a plan of operation achieving something, sedangkan metode adalah a way in achieving something.

4. Komponen Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak, dan bagian – bagian mana yang harus disempurnakan. Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan. Kedua fungsi tersebut menurut Scriven (1967) adalah evaluasi sebagai fungsi sumatif dan evaluasi sebagai fungsi formatif. Evaluasi sebagai alat untuk melihat keberhasilan pencapaian tujuan dapat dikelompokkan kedalam dua jenis, yaitu tes dan nontes.

3. Prinsip Kurikulum
Sejumlah prinsip yang dianggap penting dan menjadi pedoman pada saat ini pada umumnya.

1. Prinsip Relevansi

Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapa masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat.

a. Relevansi Internal
Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.

b. Relevansi Eksternal
Relevansi Eksternal, berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal yaitu :

  • Relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya, bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya untuk siswa yang ada di perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti keramaian dan rambu-rambu lalu lintas, tata cara dan pelayan jasa bank, kantor pos dsb. Begitu juga untuk sekolah yang berada di lingkungan pantai, seperti mengenai tambak, kehidupan nelayan, koperasi, pembibitan udang, dsb.
  • Relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Misalkan untuk kehidupan yang akan datang, penggunaan computer dan internet menjadi salah satu kebutuhan, maka dengan demikian bagaimana cara memanfaatkan computer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemapuan berbahasa. Pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti persetujuan APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan kepada persaingan merebut pasar kerja dengan orang-orang asing. Oleh karenanya keterampilan berbahasa asing sudah harus mulai dipupuk sejak sekarang.
  • Relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan. Artinya, bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Untuk sekolah kejuruan contohnya, kalau dahulu di Sekolah Kejuruan Ekonomi dilatih bagaimana agar siswa mampu menggunakan mesin tik sudah tidak banyak digunakan, akan tetapi yang lebih banyak digunakan computer. Dengan demikian, keterampilan mengoperasikan computer harus diajarkan. Demikian jugahalnya dengan tuntutan dunia kerja kepariwisataan, perbankan, asuransi, perhotelan dsb, isi kurikulum harus menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan pekerjaan di setiap bidang.

2. Prinsip Fleksibilitas
Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal kadan-kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataanyang ada. Bisa saja ketiksesuaian itu ditunjukkan oleh kemampuan guru yang kurang,latar belakang atau kemampuan dasar siswa yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang ada di sekolah tidak memadai.

Maka kurikulum harus bersifat lentur dan fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi :

a. Fleksibel bagi guru, artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagu guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.

b. Fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

3. Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi pelajaran

4. Efektifitas
Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektifitas dalam suatu pengembangan kurikulum yaitu :

  • Efektifitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Contoh, apabila guru menetapkan dalam satu senmester harus menyelesaikan 12 program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4 atau 5 program saja, berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif.
  • Efektifitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Maksudnya sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Contoh, apabila ditetapkan dalam satu semester siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan pembelajaran, ternyata hanya sebagian saja dapat dicapai siswa, maka dapat dikatakan bahwa proses pembelejaran siswa tidak efektif.

5. Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan pernbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus serta mahal pula harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.

Pengembangan kurikulum sekolah di Indonesia mengikuti prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berbeda, namun sasaran yang hendak dicapai adalah sama , yaitu dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan pendidikan nasional pada khususnya dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

4. Fungsi Kurikulum

Secara umum fungsi kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu peserta didik untuk mengembangkan pribadinya ke arah tujuan pendidikan. Kurikulum itu segala aspek yang mempengaruhi peserta didik di sekolah, termasuk guru dan sarana serta prasarana lainnya. Kurikulum sebagai program belajar bagi siswa, disusun secara sistematis dan logis,diberikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai program belajar, kurikulum adalah niat, rencana dan harapan.Menurut Alexander Inglis, fungsi kurikulum meliputi :

  1. Fungsi Penyesuaian, karena individu hidup dalam lingkungan , sedangkan lingkungan tersebut senantiasa berubah dan dinamis, maka setiap individu harus mampu menyesuaikan diri secara dinamis. Dan di balik lingkungan pun harus disesuaikan dengan kondisi perorangan, disinilah letak fungsi kurikulum sebagai alat pendidikan menuju individu yang well adjusted.
  2. Fungsi Integrasi, kurikulum berfungsi mendidik pribadi-pribadi yang terintegrasi. Oleh karena individu itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat, maka pribadi yang terintegrasi itu akan memberikan sumbangan dalam rangka pembentukan atau pengintegrasian masyarakat.
  3. Fungsi Deferensiasi, kurikulum perlu memberikan pelayanan terhadap perbedaan- perbedaan perorangan dalam masyarakat. Pada dasarnya deferensiasi akan mendorong orang berpikir kritis dankreatif, dan ini akan mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
  4. Fungsi Persiapan, kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk jangkauan yang lebih jauh atau terjun ke masyarakat. Mempersiapkan kemampuan sangat perlu, karena sekolah tidak mungkin memberikan semua apa yang diperlukan atau semua apa yang menarik minat mereka.
  5. Fungsi Pemilihan, antara keperbedaan dan pemilihan mempunyai hubungan yang erat.Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikan kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang dinginkan dan menarik minatnya. Ini merupakan kebutuhan yang sangat ideal bagi masyarakat yang demokratis, sehingga kurikulum perlu diprogram secara fleksibel.
  6. Fungsi Diagnostik, salah satu segi pelayanan pendidikan adalah membantu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimiliki.Ini dapat dilakukan bila mereka menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimiliki melalui eksplorasi dan prognosa. Fungsi kurikulum dalam mendiagnosa dan membimbing siswa agar dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal.


Sedangkan fungsi praksis dari kurikulum adalah meliputi :

  • Fungsi bagi sekolah yang bersangkutan yakni sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dan sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan sehari-hari.
  • Fungsi bagi sekolah yang diatasnya adalah untuk menjamin adanya pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan.
  • Fungsi bagi masyarakat dan pemakai lulusan.


5. Peranan Kurikulum

Kurikulum bagi program pendidikan dimana sekolah sebagai institusi social melaksanakan oprerasinya, paling tidak dapat ditentukan 3 jenis kurikulum :

  1. Peranan Konservatif Menekankan bahwa kurikulum itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk mentramisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini bagi generasi muda.
  2. Peranan Kritis dan evaluative Perkembangan ilmu pengetahuan dan aspek-aspek lainnya senantiasa terjadi setiap saat. Peranan kreatif menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan.
  3. Peranan Aktif Peranan ini dilatar belakangi oleh adanya kenyataan bahwa nilai-nilai dan budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan. Sehingga pewarisan dan nilai-nilai budaya masa lalu.kepada siswa perlu disesuaikan dengan masa sekarang.


6. Macam - Macam Kurikulum

Ditinjau dari konsep dan pelaksanaannya, kita mengenal beberapa istilah kurikulum sebagai berikut:

  •  Kurikulum ideal

yaitu kurikulum yang berisi sesuatu yang ideal, sesuatu yang dicita-citakan sebagaimana yang tertuang di dalam dokumen kurikulum.

  • Kurikulum aktual

yaitu kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Kenyataan pada umumnya memang jauh berbeda dengan harapan. Namun demikian, kurikulum aktual seharusnya mendekati dengan kurikulum ideal. Kurikulum dan pengajaran merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum merujuk kepada bahan ajar yang telah direncanakan yang akan dilaksanakan dalam jangka panjang. Sedang pengajaran merujuk kepada pelaksanaan kurikulum tersebut secara bertahap dalam belajar mengajar.

  • Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)

yaitu segala sesuatu yang terjadi pada saat pelaksanaan kurikulum ideal menjadi kurikulum faktual. Segala sesuatu itu bisa berupa pengaruh guru, kepala sekolah, tenaga administrasi, atau bahkan dari peserta didik itu sendiri. Kebiasaan guru datang tepat waktu ketika mengajar di kelas, sebagai contoh, akan menjadi kurikulum tersembunyi yang akan berpengaruh kepada pembentukan kepribadian peserta didik.
Berdasarkan struktur dan materi mata pelajaran yang diajarkan, kita dapat membedakan:

  • Kurikulum terpisah-pisah (separated curriculum)

Kurikulum ini menyajikan segala bahan pelajaran dalam berbagai macam mata pelajaran yang terpisah-pisah satu sama lain, seakan-akan ada batas pemisah antara mata pelajaran satu dengan yang lain, juga antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.

Beberapa hal positif dari separated curriculum ini adalah : Bahan pelajaran disajikan secara sistematis dan logis dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai budaya terdahulu.
Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan.

Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada.

Sedangkan beberapa kritik terhadap kurikulum ini antara lain: Mata pelajaran terlepas-lepas satu sama lain. Tidak atau kurang memperhatikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sudut psikologis, kurikulum demikian mengandung kelemahan: banyak terjadi verbalitas dan menghafal serta makna tujuan pelajaran kurang dihayati oleh anak didik. Kurikulum ini cenderung statis dan ketinggalan dari perkembangan zaman

  • Kurikulum terpadu (integrated curriculum)

Dalam kurikulum terpadu atau terintergrasi, batas-batas diantara mata pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali, karena semua mata pelajaran sudah dirumuskan dalam bentuk masalah atau unit. Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini antara lain : Berdasarkan filsafat pendidikan demokrasi, berdasarkan psikologi belajar gestalt dan organismik, berdasarkan landasan sosiologis dan sosiokultural, berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa. Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi lebih luas. Bahkan mata pelajaran baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna pemecahan masalah. Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik pengalaman (experience) atau pelajaran (subject matter unit). Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Guru selaku pembimbing.
Beberpa manfaat kurikulum terpadu ini antara lain:
a) Segala sesuatu yang dipelajari anak merupakan unit yang bertalian erat, bukan fakta yang terlepas satu sama lain.
b) Kurikulum ini sesuai dengan pendapat-pendapat modern tentang belajar, murid dihadapkan kepada masalah yang berarti dalam kehidupan mereka.
c) Kurikulum ini memungkinkan hubungan yang erat antara sekolah dengan masyarakat.
d) Aktifitas anak-anak meningkat karena dirangsang untuk berpikir sendiri dan berkerja sendiri, atau kerjasama dengan kelompok.
e) Kurikulum ini mudah disesuaikan dengan minat, kesanggupan dan kematangan murid.
Keberatan-keberatan yang dilontarkan pada pelaksanaan kurikulum terpadu ini adalah:
a) Guru belum siap untuk melaksanakan kurikulum ini
b) Kurikulum ini tidak mempunyai organisasi yang sitematis
c) Kurikulum ini memberatkan guru
d) Kurikulum ini tidak memungkinkan ujian umum, sebab tidak ada unformitas di sekolah- sekolah satu sama lain
e) Anak-anak diragukan untuk bisa diajak menentukan kurikulum
f) Pada umumnya kondisi sekolah masih kekurangan alat-alat untuk melaksanakan kurikulum ini.

  • Kurikulum terkorelasi (corelated curriculum)

Yaitu kurikulum yang menekankan perlunya hubungan diantara dua atau lebih mata pelajaran tanpa menghilangkan batas-batas setiap mata pelajaran. Misalnya Sejarah dan Ilmu Bumi dapat diajarkan untuk saling memperkuat.Ada tiga jenis korelasi yang sifatnya bergantung dari jenis mata pelajaran. Korelasi faktual, misalnya sejarah dan kesusastraan. Fakta-fakta sejarah disajikan melalui penulisan karangan sehingga menambah kemungkinan menikmati bacaannya oleh siswa. Korelasi deskriptif, korelasi ini dapat dilihat pada penggunaan generalisasi yang berlaku untuk dua atau lebih mata pelajaran. Misal psikologi dapat berkorelasi dengan sejarah atau Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada dalam psikologi untuk menerangkan kejadian-kejadian sosial. Korelasi normatif, hampir sama denagan korelasi deskriptif, perbedaannya terletak pada prinsipnya yang bersifat moral sosial. Sejarah dan kesusastraan dapat dikorelasikan berdasarkan prinsip-prinsip moral sosial dan etika.
Berdasarkan pengembangnya dan penggunaannya, kurikulum dapat dibedakan menjadi:

  • Kurikulum nasional (national curriculum)

yakni kurikulum yang disusun oleh tim pengembang tingkat nasional dan digunakan secara nasional.

  •  Kurikulum negara bagian (state curriculum)

yakni kurikulum yang disusun oleh masing-masing negara bagian, misalnya di masing-masing negara bagian di Amerika Serikat.

  •  Kurikulum sekolah (school curriculum)

yakni kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan sekolah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah lahir dari keinginan untuk melakukan diferensiasi dalam kurikulum.

7. Tujuan Kurikulum


Tujuan kurikulum pada dasarnya merupakan tujuan setiap program pendidikan yang diberikan kepada anak didik, Karena kurikulum merupakan alat antuk mencapai tujuan, maka kurikulum harus dijabarkan dari tujuan umum pendidikan.

Dalam sistem pendidikan di Indonesia tujuan pendidikan bersumber kepada falsafah Bangsa Indonesia. Di Indonesia ada 4 tujuan utama yang secara hirarki sebagai baerikut:

a. Tujuan Nasional
Dalam Undang-undang No. 2 tahun 1980 tentang sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan pendidikan nasional disebutkan Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan. Kesehatan asmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tariggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dari tujuan nasional kemudian dijabarkan ke dalam tujuan insitusional/ lembaga, tujuan kurikuler, sampai kepada tujuan insfruksional dengan penjabaran sebagai berikut:

b. Tujuan Intitusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu lembaga pendidikan, umpamanya MI. MTs, MA, SD, SMP, SMA, dan sebagainya. Artinya apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan tersebut, Sebagai contoh, kemampuan apa yang harus dimiliki anak didik setelah menamatkan lembaga pendidikan iersebut. Sebagai contoh, kemampuan apa yang diharapkan dimiliki oleh anak yang tamat MI, MTs, atau Madrasah Aliyah. Rumusan tujuan institusional harus merupakan penjabaran dan tujuan umum (riasional), harus memiliki kesinambungan antara satu jenjang pendidikan tinggi dengan jenjang Iainnya (MI, MTs, dan MA sampal ke IAIN/ perguruan tinggi). Tujuan institusional juga harus memperhatikan fungsi dan karakter dari lembaga pendidikannya, seperti lembaga pendidikan umum, pendidikan guru dan sebagainya.

c. Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler adalah penjabaran dan tujuan kelembagaan pendidikan (tujuan institusiorial). Tujuan kurikuler adalah tujuan di bidang studi atau mata pelajaran sehingga mencerminkan hakikat keilmuan yang ada di dalamnya. Secara oerasional adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik setelah mempelajari suatu mata pelajaran atau bidang studi tersebut.

d. Tujuan Instruksional
Tujuan instruksional dijabarkan dari tujuan kurikuler. Tujuan ini adalah tujuan yang langsung dihadapkan kepada anak didik sebab hrus dicapai oIeh mereka setelah menempuh proses belajar-mengajar. Oleh karena itu tujuan instruksional dirumuskan sebagai kemampuan-kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh anak didik setelah mereka menyelesaikan proses belajar-mengajar. Ada dua jenis tujuan institusional, yaitu tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK). Perbedaan kedua tujuan tersebut terletak dalam hal kemampuan yang diharapkan dikuasai anak didik. Pada TIU sifatnya lebih luas dan mendalam, sedangkan TIK lebih terbatas dan harus dapat diukur pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dengan demikian TIK harus lebih operasional dan mudah dilakukan pengukuran.


BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Meskipun banyak definisi kurikulum yang satu dengan yang lain saling berbeda, dikarenakan dasar filsafat yang dianut oleh para penulis berbeda-beda. Walaupun demikian ada kesamaan satu fungsi, yaitu bahwa kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mengandung sekian banyak unsur konstruktif supaya pembelajaran berjalan dengan optimal. Sejumlah pakar kurikulum berpendapat bahwa jantung pendidikan berada pada kurikulum. Baik dan buruknya hasil pendidikan ditentukan oleh kurikulum, apakah mampu membangun kesadaran kritis terhadap peserta didik ataukah tidak. Dengan demikian, kurikulum memegang peran penting bagi keberhasilan sebuah pendidikan dan bagi peserta didik.

2. Saran

Sesuai dengan perkembangan dan ilmu pengetahuan sebaiknya kurikulum disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Kurikulum perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Perubahan kurikulum harus mengacu pada sumber hukum yaitu pancasila dan Undang-undang dasar 1945.


DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia . org/wiki/Kurikulum
https://subhaniain.wordpress . com/2013/11/22/kurikulum-pendidikan/
http://www.idsejarah . net/2014/01/fungsi-dan-peranan-kurikulum.html

Tinjauan Mata Kuliah


Mata kuliah Manajemen Strategik dirancang untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu memahami proses manajemen strategik pada organisasi/perusahaan dalam menghadapi tuntutan stakeholders (pihak-pihak yang berkepentingan) global yang terus-menerus berkembang dan semakin kompleks. Mata kuliah ini disajikan dalam bentuk modul dan terdiri atas sembilan modul yang masing-masing memiliki sasaran tersendiri.

Modul pertama, Manajemen Strategik dalam Organisasi/Perusahaan, membahas pengertian dan ruang lingkup manajemen strategik dalam suatu organisasi atau perusahaan. Pada modul ini mahasiswa diajak untuk memahami pengertian manajemen strategik, pentingnya pemikiran strategik dalam organisasi, berbagai jenis organisasi yang umumnya ada, perbedaan penting di antara berbagai macam organisasi, serta penerapan manajemen strategik dalam organisasi publik dan bisnis (perusahaan). Modul kedua, Proses Manajemen Strategik, Pemangku Kepentingan, Visi, dan Misi dalam Organisasi, membahas bagaimana proses manajemen strategik diterapkan pada suatu organisasi. Mahasiswa diperkenalkan pada pengertian-pengertian stakeholders (pemangku kepentingan), serta visi dan misi pada organisasi. Selanjutnya mahasiswa juga akan diperkenalkan pada cara mengidentifikasi stakeholders (pemangku kepentingan) yang perlu diperhatikan pada suatu organisasi. Pada bagian akhir dari modul ini mahasiswa diajak untuk berlatih merumuskan visi dan misi suatu organisasi.

Modul ketiga, Analisis Lingkungan Eksternal Organisasi, membahas pengertian lingkungan eksternal serta pentingnya lingkungan eksternal suatu organisasi bagi kinerja organisasi tersebut. Mahasiswa diajak untuk memahami dan mengidentifikasi komponen-komponen yang ada dalam lingkungan eksternal suatu organisasi. Selanjutnya dibahas juga bagaimana menganalisis dampak lingkungan eksternal terhadap organisasi. Analisis dampak lingkungan eksternal ini dituangkan dalam bentuk analisis peluang (opportunities) dan ancaman (threats).

Modul keempat, Analisis Lingkungan Internal Organisasi, membahas pengertian lingkungan internal dan pentingnya lingkungan internal organisasi bagi kinerja organisasi tersebut. Mahasiswa diajak untuk memahami dan mengidentifikasi berbagai komponen yang ada dalam lingkungan internal suatu oganisasi. Pada bagian akhir dari modul ini mahasiswa diperkenalkan pada teknik analisis aspek internal organisasi yang tertuang dalam bentuk analisis kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) organisasi.

Modul kelima, Sasaran Jangka Panjang dan Strategi Umum Organisasi, membahas pengertian dan karakteristik dari sasaran jangka panjang dan strategi umum. Mahasiswa akan diberi pemahaman, dan selanjutnya diharapkan akan memiliki kemampuan, tentang bagaimana merumuskan sasaran jangka panjang dan strategi umum pada suatu organisasi, lengkap dengan tolok ukur pencapaian sasaran jangka panjang.

Modul keenam, Analisis dan Pilihan Strategik, merupakan pengintegrasian hasil dari modul tiga dan modul empat. Mahasiswa diperkenalkan pada berbagai teknik analisis untuk mengidentifikasi pilihan-pilihan strategi yang sesuai untuk situasi yang dihadapi organisasi. Teknik-teknik itu adalah SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats), Matriks Pertumbuhan Bagian Pasar BCG, Matriks GE atau IE dan Matriks Strategi Induk yang merupakan paduan dari analisis internal dan eksternal organisasi. Mahasiswa diperkenalkan pada berbagai matriks tersebut yang akan dipergunakan untuk membantu organisasi mengidentifikasi berbagai alternatif strategi yang tersedia bagi organisasi. Pada Modul 6 ini mahasiswa juga diperkenalkan pada Teknik QSPM untuk melakukan pemilihan strategi perusahaan. Dengan teknik ini mahasiswa diharapkan dapat menyusun urutan prioritas strategi organisasi.

Modul ketujuh, Implementasi Strategi: Aspek Manajemen, Operasi, dan Sumber daya Manusia membahas implementasi strategi yang telah diformulasikan sebelumnya ke dalam berbagai aktivitas manajemen dan fungsi operasi serta fungsi sumberdaya manusia dalam organisasi. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana peran berbagai elemen manajemen (perencanaan, pengorganisasian dan sebagainya) serta fungsi operasi dalam mewujudkan strategi yang telah diformulasikan secara lebih konkret dan terukur. Tidak lupa, mahasiswa juga diajak untuk memahami bahwa betapapun hebatnya suatu strategi dirumuskan, para pelaku yang diharapkan mengimplementasikan strategi tersebut juga harus menjadi pertimbangan penting. Itu sebabnya, aspek SDM (Sumber Daya Manusia) menjadi bagian penting yang juga dibahas dalam Modul 7 ini.

Modul kedelapan, Implementasi Strategi: Pemasaran, Keuangan/Akunting, R dan D, dan SIM, membahas bagaimana strategi yang sudah dirumuskan di modul sebelumnya diimplementasikan ke dalam aktivitas-aktivitas fungsional pemasaran, keuangan/akunting, R dan D (Research and Development, atau Penelitian dan Pengembangan) serta SIM (Sistem Informasi Manajemen) organisasi. Secara ringkas mahasiswa akan diperkenalkan pada berbagai aktivitas fungsional organisasi di bidang-bidang tersebut. Tentu saja uraian tentang berbagai fungsi ini tidak lengkap karena mahasiswa tentu sudah mendapatkan bahan yang lengkap ketika memelajari berbagai kegiatan fungsional tersebut di modul-modul yang lain. Yang penting di sini adalah para mahasiswa memahami bagaimana keterkaitan antara manajemen strategik dan manajemen fungsional dan bagaimana arah yang dirumuskan dalam manajemen strategik menjadi pedoman atau acuan ketika merancang berbagai strategi fungsional.

Modul kesembilan, Pengendalian Strategi, membahas pentingnya evaluasi dan pengendalian untuk memastikan tercapainya sasaran organisasi. Modul ini membahas tolok ukur pencapaian sasaran, teknik evaluasi strategi, dan hierarki pengendalian pada suatu organisasi. Demikianlah keseluruhan rencana modul mata kuliah Manajemen Strategik. Diharapkan dengan mengikuti dan mendalami setiap modul yang ada mahasiswa akan memiliki pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan di bidang manajemen strategik dan mampu mengaplikasikannya dalam konteks organisasi yang nyata.

Peta Kompetensi Strategik


Selamat belajar, sukses untuk anda, semoga Tuhan YME membukakan pintu ilmu dan kearifan seluas-luasnya bagi kita semua. Amin.

Tinjauan Mata Kuliah


Mata kuliah Manajemen Operasi (EKMA5208) pada intinya memberikan gambaran tentang bagaimana proses transformasi input menjadi output dapat dilaksanakan, baik dalam perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Mata kuliah ini merupakan mata kuliah inti dalam bidang manajemen sebagai mata kuliah yang mendukung mahasiswa untuk menyelesaikan studi di Program Studi Magister Manajemen. Mata kuliah ini membahas materi mengenai metode atau teknik yang dapat digunakan dalam melakukan transformasi input menjadi output sampai produk atau jasa dikirim ke pasar.

BMP ini didesain agar dapat digunakan sebagai media belajar mandiri bagi mahasiswa. Agar dapat belajar dengan baik dan optimal, mahasiswa diharapkan dapat mengikuti tutorial (baik tutorial online maupun tutorial tatap muka), mengerjakan latihan dan tes formatif, serta mempelajari sumber belajar lainnya, baik di perpustakaan maupun di rumah. Mata kuliah Manajemen Operasi ini memiliki bobot 3 sks. Tiap sks terdiri atas tiga modul sehingga jumlah keseluruhan modul dalam BMP ini adalah sebanyak sembilan modul. Adapun perincian materi per modul sebagai berikut.

Modul 1: Pengantar Manajemen Operasi
Modul 2: Teknologi Proses
Modul 3: Lokasi dan Layout Fasilitas Produksi
Modul 4: Manajemen Kualitas
Modul 5: Pengelolaan Sumber Daya
Modul 6: Persediaan
Modul 7: Sistem Produksi Tepat Waktu (Just in Time)
Modul 8: Manajemen Proyek
Modul 9: Manajemen Rantai Pasok

Secara umum, setelah mempelajari mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa dapat menganalisis masalah-masalah yang berkaitan dengan kasus-kasus dalam manajemen operasi berdasarkan teori yang ada. Secara khusus, diharapkan setelah mempelajari mata kuliah ini mampu :

  1. menjelaskan pengertian dan strategi manajemen operasi;
  2.  menganalisis teknologi proses;
  3. menganalisis penerapan layout dan lokasi dalam manajemen operasi;
  4. menganalisis manajemen kualitas;
  5. menganalisis perencanaan sumber daya;
  6. menganalisis pengelolaan persediaan;
  7. menganalisis sistem produksi tepat waktu;
  8. menganalisis penyelesaian proyek;
  9. menganalisis supply chain management.

Orientasi penyajian BMP ini adalah memudahkan mahasiswa belajar secara mandiri. BMP ini terbagi menjadi sembilan modul. Setiap modul terbagi menjadi dua kegiatan belajar yang merupakan subtopik dari modul. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan latihan, rangkuman, dan tes formatif. Semua ini bertujuan mengikhtisarkan materi yang kompleks serta memperjelas dan memperkuat konsep-konsep yang mendasar. Mahasiswa diwajibkan untuk mempelajari BMP ini dengan sungguh-sungguh agar dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian akhir semester dengan baik. Setiap modul memiliki kaitan-kaitan tersendiri yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Peta Kompetensi Manajemen Operasi

MODEL PENDIDIKAN KARAKTER

GO GREEN SEBAGAI SALAH SATU MODEL

PENDIDIKAN KARAKTER


ABSTRACT

Karakter secara umum dapat diartikan sebagai nilai-nilai yang baik dan unik yang dimiliki setiap individu dan terpancar dalam perilaku. Karakter yang baik ini dapat mempengaruhi individu lain, yang dalam konteks lebih besar dapat merupakan karakter masyarakat atau bahkan bangsa. Budaya hedonisme disinyalir telah mengubah karakter bangsa Indonesia dari karakter yang tangguh, jujur, cerdas, dan peduli, menjadi karakter yang lemah, munafik, dan tidak peduli terhadap sesame. Atas dasar itu, pembangunan karakter menjadi sesuatu yang dirasa mendesak ditata ulang dalam konteks pembangunan bangsa. Ada beberapa model pendidikan karakter yang dapat digali dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. UT memilih go green sebagai model dalam pendidikan karakter. Go green dapat dipahami sebagai gerakan yang memperhatikan kelestarian lingkungan untuk mewujudkan pembangunan bangsa yang berkesinambungan. Perilaku go green dapat dibentuk dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memperhatikan pendapat Rogers (2004) perilaku go green dapat dibentuk melalui beberapa tahapan, yaitu pengenalan pengetahuan, persuasi, penentuan keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Melalui gerakan go green, UT dapat melakukan penghematan dalam penggunaan kertas, listrik, air, memperhatikan keselamatan kerja, penghijauan di sekitarnya.

Kata kunci: environmentalisme, lingkungan, hemat enegri, green office


PENDAULUAN

Tulisan ini didasarkan pada buku UT Go Green: Model Pendidikan Karakter, yang ditulis secara bersama‐sama oleh Dr. Effendi Wahyono, M.Hum, Dr. Benny A. Pribadi, MA, Dr. A.A. Ketut Budiastra, M.Ed, Ir. Basuki Hardjojo, dan Dr. Tri Darmayanti, MA.

Pendidikan karakter merupakan dasar dari pendidikan bangsa Indonesia yang dikampanyekan sejak negeri ini berdiri. Kata-kata seperti nation building dan character building merupakan dua kata yang selalu didengungkan oleh para pendiri bangsa dalam rangka menggerakan rakyat Indonesia membangun bangsa secara berkarakter.

Namun dalam perkembangan akhir-akhir ini kita merasakan semakin banyak perilaku menyimpang dari karakter yang diimpikan oleh para pendidi bangsa. Perilaku tersebut dapat kita lihat misalnya perkelahian pejar, mahasiswa, amuk massa, ketidakpedulian pada sesama, ketidakpedulian terhadap kerusakan lingkungan alam, dan sebagainya. Jika kita jujur, bencana alam, pemanasan global yang menyebabkan tingginya permukaan air laut dan terjadinya perubahan iklim terjadi akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan karena tingkah laku manusia yang tidak bersahabat dengan alam.

Perubahan ilklim terjadi karena memburuknya lingkungan di sekitar kita.Isu perubahan iklim saat ini merupakan isu yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu strategi yang dapat dijalankan untuk mengurangi dampak tersebut adalah dengan memperhatikan prinsipprinsip pelestarian lingkungan di dalam setiap kegiatan baik kegiatan yang ada kaitannya dengan bangunan maupun kegiatan yang harus dimulai dari budaya hidup kita sehari-hari dan bagaimana kita kita menciptakan dan memelihara rumah dan lingkungan sehat. Kita semua secara sadar atau tidak sadar adalah penyumbang cukup besar terhadap kerusakan bumi, maka kita harus bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan alam dan berusaha untuk mengendalikannya (Susilo, 2011).

Sebagai institusi pendidikan tinggi, UT ingin memulai mengurangi pemanasan global dengan mengadakan gerakan UT Go Green. Kebijakan ini merupakan gerakan untuk mengelola kegiatan perkantoran secara efisien dan efektif dalam penggunaan sumber daya dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Program dari gerakan UT Go Green adalah pengurangan penggunaan kertas sebagai sarana kerja, efisiensi penggunaan energy listrik, penghematan penggunaan air, penghijauan setiap lahan terbuka, dan perlindungan kesehatan lingkungan, sehingga dapat membuat warga UT bekerja dengan nyaman dalam lingkungan yang asri. Gerakan UT Go Green ini terus disosialisasikan sebagai suatu program berkelanjutan sehingga terbentuk karakter yang cerdas, jujur, tangguh, dan peduli.

Pendidikan karakter tidak perlu dijadikan mata kuliah tersendiri, tetapi mestinya sudah “menempel” secara otomatis dalam setiap mata kuliah. Demikian juga dengan UT Go Green. Gerakan ini bukan merupakan mata kuliah, tetapi suatu kebijakan yang langsung diikuti dengan tindakan nyata dalam perilaku sehari-hari. Perilaku go green yang tercermin dalam tindakan sehari-hari akan tertularkan kepada orang lain. Karena itu gerakan ini bukan penuh dengan instruksi, tetapi sarat dengan keteladanan, yang dijadikan contoh konkret dalam setiap tindakan. Tindakan yang baik itu akan diikuti oleh orang lain yang pada saatnya akan menjadi bagian hidup setiap orang. Perilaku go green yang sudah menjadi bagian dari hidup tersebut akan di bawa pulang dan dapat menularkan kepada keluarga, dan selanjutnya, keluarga dapat menularkan kepada masyarakat di sekitar, sehingga lama kelamaan menjadi perilaku kolektif
dalam masyarakat.


PENDIDIKAN KARAKTER

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Kakarakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti cetak biru atau format dasar (Doni Koesoema, 2007: 90). Dari pengertian ini, maka karakter sebetulnya sudah merupakan bawaan dari setiap manusia.

Bila ditinjau dari segi bahasa karater berasal dari bahasa Inggris kata character yang diterjemahkan menjadi watak atau sifat. Sedangkan secara terminologi karaketer dapat dijelaskan sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Sedangkan Akhmad Sudrajat mendefinisikan secara lengkap bahwa karakter merupakan nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan YME, diri sendiri, sesasama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Oleh karena itu, pendidikan karakter didefinisikan sebagai suatu sistem penanaman nilai-nilai kepada semua orang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kenagsaan sehingga menjadi insan kamil. Untuk memperoleh hasil pendidikan karakter ini diperlukan upaya yang melibatkan semua komponen. Kadangkala terjadi permasalahan dalam pendidikan karater atau perubahan karakter adalah apabila suatu karakter sudah menetap dalam diri seseorang dalam waktu yang lama dan seseorang sudah berada dalam kondisi nyaman dengan karakter tersebut, Untuk mengubah karakter diperlukan kekuatan kemauan untuk berubah dan seberapa keras usaha untuk merubah karakter. Oleh karena itu. perubahan karakter ini diperlukan usaha yang maha gigih dan sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah.

Pada umumnya karakter atau sifat manusia yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Cepat lambatnya proses perubahan karakter tergantung pada apakah lingkungan pergaulan juga menginginkan berubah karakter. Tetapi apakah karakter seseorang dapat diubah? Menurut Koesoema, karakter manusia secara struktur antropologis dapat diubah. Ia membedakan dua macam karakter yaitu karakter ebagaimana yang dilihat (character as seen), dan karakter sebagaimana yang dialami (character as experienced). Karakter sebagaimana yang dapat dilihat dapat berupa kombinasi pola perilaku, kebiasaan, dan pembawaan yang secara terus-menerus dilakukan seseorang secara konsisten. Pada sisi lain, individu memiliki dimensi internal dalam menanggapi rangsangan dari luar dirinya untuk diterima, ditolak, atau dimodifikasi. Inilah menurut Koesoema disebut sebagai karakter sebagaimana yang dialami. Karakter jenis ini lebih mengutamakan peran subjek sebagai pelaku yang bertindak berhadapan dengan diterminasi alam yang dimilikinya. Dengan demikian, ada motivasi dalam diri individu untuk menerima atau menolak impuls yang datang dari luar dirinya (Doni Koesoema, 2007: 92).

Salah satu upaya untuk mengubah karakter seseorang atau kelompok orang adalah melalui pendidikan. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter dapat dilakukan melalui berbagai model. Sebagai lembaga penyelenggara pendidikan jarak jauh yang memiliki komunitas global, UT menerapkan model perilaku go green sebagai salah satu media untuk melakukan pendidikan karakter. Keinginan UT menjadi bagian dari world class university merupakan salah satu dorongan kuat mewujudkan UT sebagai go green. Melalui gerakan UT Go Green, UT berharap dapat membantu mengatasi masalah pemanasan global, yang juga menjadi perhatian dalam lingkungan world class university.

UT Go Green adalah suatu gerakan ajakan bertujuan meningkatkan kewaspadaan kepada lingkungan. Praktek dari gerakan ini antara lain mengurangi konsumsi karbon tiap orang per kapita (carbon footprint) atas berbagai sumber daya baik yang tidak bisa diperbarui seperti minyak bumi, gas dan mineral, maupun sumber daya kritis seperti pohon, air, lahan marginal, bahan-bahan kimia pembuat polymer termasuk plastik, dan lain-lain. Gerakan UT Go Green merupakan inisiatif untuk mengantisipasi perubahan iklim global (global warming), yang merupakan suatu era pembaruan pikiran dan perbuatan konkret yang taktis untuk mengintegrasikan kegiatan kehidupan manusia dengan konsep pembangunan yang berkesinambungan (sustainability).


GO GREEN SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN KARAKTER

Go gren adalah gerakan yang memperhatikan lingkungan. Gerakan ini dapat juga disebut environmentalisme, suatu gerakan sosial yang berusaha menegakkan pelestarian, restorasi, dan memelihara lingkungan alam. Denton E Morrison membagi gerakan ini menjadi tiga komponen yaitu pertama, gerakan lingkungan yang terorganisir, yang digerakan oleh sekelompok orang seperti lembaba swadaya masyarakat secara sukarela. Termasuk dalam kategori ini adalah organisasi lingkungan seperti Enviromental Devense Fund, Green Peace atau di Indonesia adalah LSM seperti Walhi dan Jaringan Pelestarian Hutan “SKEPHI”. Komponen kedua, gerakan lingkungan publik , adalah khalayak ramai atau individual yang sikap, tindakan, dan kata-katanya sehari-hari menyatakan kesukaannya dan menjaga kelsatarian lingkungan. Komponen ketiga, adalah gerakan lingkungan yang terlembaga secara institusional, yang mengeluarkan kebijakan yang pro lingkungan. Di Negara-negara berkembang, komponen yang ketiga ini sangat menentukan, karena di Negara-negara ini peranan negara sangat dominan dan peranan aparat-aparat birokrasi resmi mempunyai kewenangan hukum (yuridiksi) terhadap kebijakan umum tentang lingkungan hidup atau yang berkaitan dengan lingkungan hidup. (http://gogreenindonesia.blogspot.com/2008/05/pencintaalam-
dan-paradigma-gerakan.html).

Jika kita menjenerikan go green dengan enviromentalisme, maka sejarah go green telah mengalami perjalanan yang cukup panjang. Dari Wikipedia, Gerakan ini dapat ditelusur dari Inggris. Pada tahun 1272, Raja Inggris, Edwar II mengeluarkan larangan pembakaran batu bara yang dianggap menyebabkan polusi udara. Kemudian gerakan yang sama juga dilakukan oleh Ratu Vicoria dari Inggris dengan mengeluarkan kebijakan “kembali ke alam”. Kebijakan ini dilakukan pada masa keemasan revolusi industri di Inggris pada abad ke-19. Pada periode yang sama, gerakan “kembali ke alam” juga dilakukan oleh kalangan intelektual seperti John Ruskin, William Morris, dan Edward Carpenter. Mereka melawan konsumerisme, polusi, dan kegiatan lain yang berbahaya dan mengancam kelestarian alam. Jauh sebelum gerakan “kembali ke alam” Victoria, di Amerika Serikat, Benjamin Franklin yang merupakan salah seorang penandatangan deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat bersama warga Philadelphia mengajukan petisi untuk menghentikan pembuangan limbah dan menghapus penyamakan kulit di daerah komersial Philadelpia. (http://pelestarian-alam-1993.blogspot.com/2011/11/pelestarian-lingkungan-hidup.html) dan sumber lain). Gerakan pencinta lingkungan bahkan dilakukan juga oleh Hitler. Pada saat berkuasa, gerakanperlindungan lingkungan dan perlindungan binatang merupakan isu yang popular dari rezim tersebut.

Tulisan tentang sejarah Go Green terinspirasi dari tulisan dalam forum online Himpunan Pemerhati Lingkungan Indonesia (HPLI) pada 8 Juni 2009 (http://www.hpli.org/forum). Gerakan hijau atau lebih popular dikenal dengan istilah “Go Green” awalnya dideklarasikan oleh sebuah kelompok masyarakat di kota Hobart, Australia yang bernama “United Tasmanian Group” pada tahun 1972. Gerakan ini diikuti oleh negara-negara lain antara lain Kanada dan New Zealand. Gerakan hijau ini menganut paham demokrasi partisipatori dan berlandaskan prinsip “Think Globally, Act Locally”, untuk isu-isu lingkungan. Gerakan hijau merupakan suatu gerakan yang berusaha menempatkan manusia sebagai penentu dalam mengatasi kesenjangan antara pembangunan dan lingkungan. Dalam beberapa kasus, gerakan ini umumnya berupa advokasi lingkungan yang berusaha meningkatkan kontrol sosial dalam kaitannya dengan pelestarian lingkungan alam.

Gerakan Hijau berkembang menjadi wacana politik dan kebijakan pemerintah. Berbagai negara mulai menyadari perlunya tindakan-tindakan politik yang melindungi dan menjaga keberadaan lingkungan. Dalam gerakan antarnegara muncul juga badan-badan antarnegara yang menyuarakan agar Negara mempertahankan nilai-nilai ekologi, seperti lahirnya Protokol Kyoto.

Secara umum Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Perubahan iklim (climate change) adalah gejala naiknya suhu permukaan bumi akibat naiknya intensitas efek rumah kaca yang kemudian menyebabkan terjadinya pemanasan global. Kenaikan suhu udara ini dipicu oleh semakin tingginya kadar Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer, diantaranya oleh CO2 yang banyak dihasilkan dari aktivitas manusia seperti kegiatan pembakaran bahan bakar fosil (misalnya minyak, gas, batubara) yang banyak digunakan untuk industri, transportasi, rumah tangga, pembangkit, dan lain-lain. (http://www.gogreenindonesiaku.com/green_opinion1.php#)

Di luar itu, sebetulnya kita dapat berperan dalam mengurangi pemanasan global. UT sebagai institusi pemerintah, berusaha untuk ikut andil dalam upaya mengurangi pemanasan global melalui program UT go green.


Melalui program UT Go Green, UT dapat mewujudkan fungsi pendidikan nasional, yaitu membentuk karakter yang peduli lingkungan. Peduli lingkungan merupakan salah satu perwujudkan dari tujuan pendidikan nasional, yaitu bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Di samping unsur efektivitas dan efisiensi, penerapan konsep UT Go Green ternyata juga merupakan salah satu persyaratan dalam penentuan world’s class university terhadap semua perguruan tinggi di dunia dengan mengangkat isu pemanasan global. UT berkeinginan kuat untuk menjadi bagian dari world’s class university tersebut. Oleh karena itu, penerapan konsep UT Go Green di UT sudah merupakan kebutuhan yang bersifat mutlak.

Gerakan UT Go Green diarahkan untuk perubahan karakter seluruh karyawan UT dalam menyikapi ketersediaan sumber daya dengan dimulai perubahan kebiasaan, yang selanjutnya menuju perubahan perilaku.

Melalui gerakan Go Green, UT berharap dapat aktif dalam pembangunan karakter bangsa. Melalui gerakan Go Green, UT berharap dapat ikut berpartisipasi dalam membentuk pribadi-pribadi bangsa Indonesia menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, berahlak mulia, berbudi luhur, toleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi iptek yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila, sehingga dapat menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Untuk mencapai karakter yang diharapkan tersebut, diperlukan pribadi-pribadi yang berkarakter. Pribadi yang berkarakter memiliki keterpaduan antara olah hati, olah pikir, olahraga, olah rasa dan karsa. Olah hati berkenaan dengan perasaan sikap dan keyakinan. Karakter yang bersumber pada olah hati ini antara lain beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, tertib, taat aturan, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil risiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik.

Olah pikir berkenaan dengan proses nalar guna mencari dan menggunakan pengetahuan secara kritis, kreatif, dan inovatif. Karakter yang bwersumber dari olah pikir adalah cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu, produktif, beroriantasi iptek, dan reflektif.

Olahraga berkenaan dengan proses persepsi dan penciptaan aktivitas secara sportif. Karakter yang bersumber dari olahraga atau kinestika adalah bersih dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, dan gigih.

Olah rasa dan karsa berhubungan dengan kemauan dan kreativitas yang tercermin dalam kepedulian, citra, dan penciptaan kebaruan. Karakter yang bersumber dari olah rasa dan karsa adalah antara lain, berperikemanusiaan, saling menghargai, gotong royong, kebersamaan, ramah, hormat, toleran, rasionalis, peduli, mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras, dan beretor kerja (Pemerintah Republik Indonesia, 2010: 21-22).

Jika gambaran tersebut disederhanakan, olah pikir dapat menghasilkan karakter cerdas, olah hati menghasilkan karakter jujur, olahraga menghasilkan karakter tangguh, dan olah rasa membentuk karakter peduli. Gerakan Go Green diharapkan dapat menghasilkan keempat sikap tersebut sehingga membentuk pribadi yang berkarakter.

Cerdas merupakan sifat yang ditandai oleh perilaku dan tindakan yang tepat dalam menghadapi sebuah situasi. Individu yang cerdas senantiasa memiliki kemampuan berfikir yang baik sebelum memutuskan untuk bertindak. Kecerdasan selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dibentuk oleh faktor pengalaman, melalu pengalaman yang bermakna seseorang akan memiliki sifat dan karakter yang kuat yang dapat digunakan untuk menghadapi sebuah kondisi dan situasi.

Individu perlu memiliki karakter cerdas dalam menghadapi situasi cerdas dalam menghadapi situasi dan kondisi yang berkembang semakin kompleks. Terkait dengan pola hidup Go Green seseorang harus dapat memilih sikap dan tindakan yang tepat untuk dapat menciptakan kehidupan yang nyaman, aman dan lestari ekologis.

Pembentukan karakter cerdas terjadi manakala individu telah memiliki pengetahuan untuk menentukan suatu sikap atau tindakan. Untuk membangkitkan karakter ini UT, sebagai penggagas gerakan Go Green, perlu memfasilitasi sivitas akademika dengan nuansa lingkungan yang berwawasan konservasi.


PROGRAM KERJA UT GO GREEN

Gerakan UT Go Green dicanangkan oleh Rektor UT pada tanggal 2 Mei 2010, bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional, sekaligus merupakan pembukaan dari rangkaian acara Dies Natalis UT yang puncaknya pada 4 September. Acara yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional ini ditandai dengan penyematan pin UT Go Green yang diikuti oleh seluruh karyawan UT baik di Pusat maupun di 37 UPBJJ-UT di daerah. Sejak itu, untuk mengingatkan seluruh karyawan UT untuk selalu melakukan tindakan go green, setiap karyawan wajib mengenakan pin UT Go Green sampai tanggal 4 September 2010 yang merupakan puncak acara dari rangkaian kegiatan Dies Natalis.

Kebijakan untuk mengembangkan UT Go Green adalah upaya untuk menumbuhkembangkan sikap mental warga UT menjadi manusia yang berjiwa entrepreneur, hemat, efisien, efektif dan disiplin. Strategi yang dijalankan adalah keteladanan sikap mental, dan komitmen untuk menwujudkan kebijakan tersebut.

Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan kebijakan UT Go Green saat ini adalah dengan sosialiasai program melalui berbagai madia seperti forum rapat, upacara bendera, maupun web. Program yangh sekarang berjalan untuk mewujudkan UT Go Green adalah penghematan listrik, penghematan kertas dan tinta/tonner, dan penghijauan.

Beberapa program kegiatan yang dapat dijadikan sebagai implementasi dan sekaligus dapat menjadi indikator tingkat keberhasilan penerapan UT Go Green, antara lain: (1) Bangunan UT Go Green yang menghasilkan karakter cerdas, tangguh, jujur, dan peduli sebagai pigurnya.

Pengurangan penggunaan kertas; (2) Pengurangan penggunaan energi/listrik; (3) Pengurangan penggunaan Air; (4) Pengurangan penggunaan produk berbahan baku plastik dan yang berbahaya bagi kesehatan; (5) Maksimalisasi Ruang Terbuka Hijau dan estetika; dan (6) Peningkatan Keselamatan dan kesehatan kerja.

Pengurangan Penggunaan kertas

Kertas merupakan sarana kerja yang paling banyak digunakan dalam kegiatan perkantoran. Kondisi yang ada selama ini menunjukkan bahwa sebagian besar kantor baik pemerintah maupun swasta sangat boros dalam pemakaian kertas. Hal ini bukan saja akan berdampak pada meningkatnya volume limbah yang dihasilkan, namun juga secara tidak langsung hal ini akan memboroskan penggunaan sumber daya alam hutan, yaitu kayu yang ditandai dengan peningkatan penebangan pohon.

Di UT, kertas selain untuk tata persuratan perkantoran, digunakan pula untuk peencetakan draft buku materi pokok (modul), dokumen lelang, kontrak, dan pencetakan naskah ujian. Untuk penghematan kertas, UT telah mengeluarkan kebijakan dalam beberapa hal. Undangan rapat dan notulennya dikirim melalui e-mail. Pembuatan draft dokumen lelang, kontrak, pengoreksiannya dilakukan secara elektronik. Jika terpaksa menggunakan draft secara tercetak, pencetakannya dilakukan secara dua muka (bolak-balik). Saat ini hampir semua undangan rapat, pendistribusian notulen rapat, dan sarana komunikasi lain seperti pengoresian naskah buku materi pokok, draft dokumen kontrak, draft dokumen lelang, dan semacamnya dilakukan secara elektronik.

Pengurangan Penggunaan Energi

Energi listrik merupakan energy yang paling banyak digunakan untuk kegiatan perkantoran pada umumnya. Listrik digunakan untuk penerangan, computer, dan AC. Untuk bisa menghemat penerangan listrik, maka gedung didesain dengan menggunakan pencahayaan alam secara maksimal. Dengan demikian kita dapat sedikit mungkin menggunakan penerangan listrik. Jika terpaksa harus menggunakan penerangan listrik, penggunakan lampu listrik harus menggunakan jenis lampu yang hemat energy. Secara bertahap UT mengganti lampu-lampu kerja dengan jenis Light Emitting Diode (LED). Jenis lampu ini selain dapat menghemat penggunaan energi listrik juga dapat mengurangi panas ruangan dibandingkan dengan menggunakan lampu biasa (neon, bohlam maupun lainnya).

Sebuah perusahaan di Carolina Utara, Amerika telah membuat gedung yang penerangannya menggunakan lampu LED sebagai pengganti lampu biasa. Hasilnya, mereka dapat menghemat energi yang digunakan sampai 48%. (http://www.otakku.com/2007/11/12/office-building-lit-fullyby-led/)


Akibat panas yang disebabkan oleh lampu penerangan listrik yang berkurang, maka panas ruang kerja juga menjadi berkurang, sehingga beban AC untuk mendinginkan ruang kerja juga berkurang. Pengurangan beban AC akan mengurangi pemakaian daya listrik sangat berarti. Perlu diketahui, beban listrik yang paling besar untuk keperluan kantor adalah AC.

Pengurangan penggunakan AC dilakukan juga dengan mematikan AC pada ruangruang sidang yang tidak digunakan atau ruang kerja yang ditinggalkan penghuninya. Cara lain untuk penghematan listrik dari penggunaan AC adalah dengan memasang timer AC. AC diset untuk hidup sejak jam 08 pagi dan akan mati secara otomatis pada jam 16 sore. Di samping itu, pada gedung baru, UT mencoba menggunakan AC dengan tipe VRV. VRV merupakan singkatan dari Variable Refrigerant Volume yang artinya sistem kerja refrigerant yang berubahubah. VRV system adalah sebuah teknologi yang sudah dilengkapi dengan CPU dan kompresor inverter dan sudah terbukti menjadi handal, efisiensi energi, melampaui banyak aspek dari sistem AC lama seperti AC Sentral, AC Split, atau AC Split Duct. Jadi dengan VRV Sistem, satu outdoor bisa digunakan untuk lebih dari 2 indoor AC. (http://cvastro.com/ac-daikinvrv-system.htm). Dengan system tersebut, UT dapat mengurangi penggunaan listrik secara berarti.

Listrik UT disuplai oleh dua sumber, yaitu dari gandul (1500 KVA) dan dari Kebayoran Lama (1000 KVA). Supai listrik dari Gandul digunakan untuk gedung-gedung bagian belakang dengan beban terpasang 1380 KVA. Dari hasil pengukuran yang dilakukan sampai bulan November 2011, diketahui bahwa dari 1380 KVA terpasang, pemakaian listrik maksimum pada beban puncak sebesar 867 KVA. Sedangkan pemakaian maksimum beban puncak pada saat wisuda yang semua gedung menggunakan energy puncak, bebannya naik menjadi 1068,5. Dari situ terlihat ada 231,5 KVA daya listrik yang tersisa yang bisa juga dikatakan sebagai penghematan.

Pengurangan Penggunaan Air

Air bersih di UT dimanfaatkan oleh pegawai untuk kebutuhan MCK, kebersihan, dan tanaman. Sedangkan untuk kebutuhan minum dipasok dari perusahaan air minum yang langsung dapat diminum (dispenser). Untuk kebutuhan tersebut diperlukan konservasi sumber daya air berupa pemeliharaan keberadaan, keberlanjutan ketersediaan, mutu, sifat, dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang.

Usaha yang dapat dilakukan UT dalam memelihara sumber-sumber air tanah yang dilingkungan UT adalah dengan cara penggunaan peralatan pompa dan instalasi air sesuai standar dan pengelolaan pembuangan air kotor yang sesuai dengan prinsip kesehatan, sosialisasi program konservasi sumber daya air tersebut di kalangan karyawan UT. Saat ini, UT melakukan outsourcing untuk pengelolaan sumber daya air tersebut.

Ruang Terbuka Hijau dan Estetika

Bulan Februari tahun 2002, Jakarta menghadapi banjir di mana-mana. UT yang letaknya di bagian Selatan Jakarta termasuk wilayah yang terkena musibah banjir. Sebagian kantor UT seperti FMIPA, Perpustakaan, Gudang bahan ajar, rumah dinas rector, dan gedung percetakan, merupakan gedung-gedung yang terkena banjir. Empang-empang yang ada di bagian utara UT tidak dapat menampung luapan air. Atas dasar pengalaman tersebut, empang-empang sepanjang pinggir sungai yang terkesan kumuh dan telah menjadi milik UT diolah dengan dibentuk danau buatan, sedangkan tanah lumpur yang diangkat dari empang-empang tersebut, kemudian dicampur dengan tanah merah dari luar digunakan untuk meninggikan bagian bagian tanah di sekitar danau. Gagasan awal adalah menampung luapan air sungai ke dalam danau dan kelebihan air yang ada dalam danau tersebut baru dialirkan kembali ke sungai. Dengan cara ini diharapkan dapat menekan banjir di sekitar UT yang terjadi setiap musim hujan. Area di sekitar danau yang luasnya lebih dari dua hektar penghijauan, sehingga daerah yang tadinya kumuh, tidak terolah, menjadi area yang bersih, hijau, dan nyaman untuk rekreasi warga UT. Dengan demikian, danau yang semula dibangun untuk resapan air, digunakan pula menjadi arena rekreasi keluarga yang nyaman. Sekitar danau juga dibuat jogging track sehingga dapat digunakan untuk arena olah raga bagi warga UT. Di arena ini masih ada lahan seluas dua ha terbuka hijau yang masih memungkinkan untuk lebih dihijaukan.

Komitmen untuk pengijauan kantor tidak hanya dilakukan di UT pusat, tetapi juga di kantor-kantor UPBJJ yang tersebr di 37 kota. UT bahkan bekerja sama dengan berbagai instansi untuk melakukan penghijauan, seperti penghijauan di sekitar longsoran Situ Gintung, dan Jatiluhur, pelatihan pembuatan biopori terhadap warga di sekitar UT.

Ke depan, UT akan terus berkomitmen untuk melakukan penghijauan lahan-lahan kosong di sekitar kantor. Jika sebelumnya lebih menitikberatkan kea rah pengembangan taman, maka ke depan penghijauan akan diarahkan ke penghutanan, dengan menanam pohon keras yang dapat menyimpan air lebih lama. Hal ini sesuai dengan haparan UT yang terletak di bagian selatan Jakarta untuk dapat membantu menjadi penyangga ibukota Republik Indonesia yang kita cintai melalui penyediaan ruang terbuka hijau.

Kondisi ideal perimbangan antara luas bangunan dengan Ruang Terbuka Hijau adalah 70:30. Maksud rasio ini adalah luas maksimum untuk bangunan dan jalan adalah 70% dan minimum 30% untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH). Bukan hanya untuk keteduhan, tanaman juga dapat mendaurulang gas CO2 di udara dan sekaligus menghasilkan udara segar (Oksigen/O2) yang memberikan kenyamanan bagi lingkungan sekitarnya. Di samping itu, vegetasi/tanaman dapat memberikan nilai estetika/keindahan tersendiri bagi lingkungan kantor.

Kantor Pusat UT di Pondok Cabe sekarang memiliki lahan 156.348 m2. Sebanyak 35,75% telah dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas gedung dan jalan dan 64,25% berupa lahan terbuka termasuk resapan air berupa danau buatan. Untuk membantu pelestarian air tanah, di sekitar gedung hendaknya dibuatkan biopori tanah untuk resapan air dan sekaligus untuk menghasilkan pupuk organik yang berasal dari pemangkasan tanaman di lingkungan UT. Sehingga UT tidak perlu menyediakan lahan untuk pembuangan sisa perawatan tanaman. UT harus melakukan program sosialisasi tentang prinsip penggunaan lahan 70:30 ini dan pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau.

Keselamatan & Kesehatan Kerja

Semua perkantoran termasuk UT hendaknya dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja dilingkungan kerjanya masing-masing, juga mampu mengidentifikasi bahaya dilingkungan kerja serta mampu mengukur dan mengevaluasi faktor-faktor bahaya lingkungan. Untuk hal tersebut diperlukan penjelasan cara kerja yang aman dan sehat, yang sering disebut sebagai standar ”Prosedur Sistem Operasional” yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Dalam menerapkan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja diperlukan program yang jelas, misalnya dengan melakukan pelatihan penggunaan alat-alat keselamatan kerja di tempat-tempat tertentu, memasang dan memelihara APK, dan mensosialisasikan program K3 sesuai dengan kondisi UT.

Program-program tersebut terus disosialisasikan terhadap warga UT, dan diharapkan dapat terinternalisasi sehingga lama-kelamaan menjadi bagian dari gaya hidup yang terpancar dalam perilaku sehari-hari.


KESIMPULAN

Go green dapat dijadikan salah satu model dalam pendidikan karakter. UT Go Green bukan bukan hanya merupakan gerakan moral dalam membangun kesadaran terhadap kelestarian lingkungan, tetapi jauh lebih dari itu, merupakan gerakan taktis dan strategis guna mengatasi perubahan iklim.

Proses pembentukan karakter go green dilakukan melalui sosialisasi secara terusmenerus dalam setiap nafas kehidupan perkantoran. Tahapan dalam pembentukan karakter go green dapat dilakukan melalui pemberian pengetahuan tentang go green sehingga warga UT dapat merasakan atau mengetahui baik buruknya gerakan UT Go Green. Selanjutnya warga UT akan mengambil sikap untuk berperilaku go green setelah mengatahui manfaatnya. Perubahan perilaku ini dapat dilihat dari perilaku sebelum ada gerakan go green dan sesudah ada gerakan go green. Dalam perilaku organisasi yang lebih nyata saat ini, misalnya, di UT hampir tidak ada undangan rapat yang tidak menggunakan email. Pemakaian lampu kerta sedapat mungkin menggunakan penerangan alam.

Dari gerakan go green diharapkan tumbuh karakter manusia Indonesia yang cerdas, jujur, tangguh, dan peduli. Karakter tersebut dapat dibentuk melalui proses sosialisasi yang terus menerus sehingga perilaku go green dapat terinternalisasi dalam jika setiap individu. Individu tersebut kemudian dapat mempengaruhi sikap hidup di sekitarnya dan seterusnya sehingga lama-lama perilaku go green dapat terbentuk menjadi karakter masyarakat, yang dalam konteks yang lebih luas dapat menjadi karakter bangsa.

UCAPAN TERIMA KASIH

Kegiatan penulisan buku Model Pendidikan Karakter ini memperoleh dukungan financial dari Direktorat Tenaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudaya. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Tenaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudaya, karena tanpa dukungan tersebut buku ini tidak mungkin terbit. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Profesor Tian Belawati, Rektor UT yang telah memberikan kepercayaan untuk menjadi tim penulis. Rasa terima kasih kami sampaikan pula kepada Profesor Atwi Suparman, Profesor Udin Winataputra, dan Ibu Ir. Nadia Sri Damayanti, M.Ed, M.Si., atas masukan-masukannya dalam penulisan buku ini. Terakhir, rasa terima kasih dihaturkan untuk teman-temen penulis buku UT Go Green: Model Pendidikan Karakter, atas kerja samanya sehingga terbit buku tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Koesoema A, Doni, (2007) Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo
http://www.otakku.com/2007/11/12/office-building-lit-fully-by-led/ (9 Des 2011)
http://pelestarian-alam-1993.blogspot.com/2011/11/pelestarian-lingkungan-hidup.html
http://cvastro.com/ac-daikin-vrv-system.htm (9 Des 2011)
http://www.hpli.org/forum (Nov 2010)
http://pelestarian-alam-1993.blogspot.com/2011/11/pelestarian-lingkungan-hidup.html (Nov.2010)
Nasoetion, P. (2011) “Pemanasan Global Dan Upaya-Upaya Sederhana Dalam Mengantisipasinya”
http://www.gogreenindonesiaku.com/green_opinion1.php# (8 Des 2011)
Pemerintah RI. (2010). Desain Induk Pembangunan Karakter Bangsa tahun 2010-2025. (tanpa penerbit).
---------- (2005) “Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 10 tahun 2005 tentang Penghematan
Energi”.
---------- (2005) “Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 8 tahun 2005, tentang
Pedoman
Peningkatan Pelaksanaan Efisiensi, Penghematan, dan Disiplin Kerja”.
Rogers, E. M. (1995). Diffusion of Innovations (4th ed). New York: Free Press.
Susilo, Wilhelmus Hary , (2011) Penyuluhan "Rumah dan Lingkungan Sehat" (10 Desember)